GAGASAN TAFSIR FEMINIS

  • HUSEIN MUHAMMAD

Abstract

Perebutan tafsir adil gender kian marak. Pro dan kontra tidak bisa dielakkan. Apakah Islam akan terus memproduksi tafsir-tafsir yang menindas, merupakan pertanyaan dari pihak yang pro feminisme. Karena Islam menurut kelompok yang pro tidak mungkin meamini tafsir sekaligus tindakan yang diskriminatif. Sementara di pihak yang kontra, menuntut umat Islam tunduk patuh pada apa yang dituturkan dalam al Qur’an dan Hadits. Pihak femenis pun dalam beberapa aspek menawarkan ayat-ayat untuk menggugat gaya tafsir pihak yang kontra adil gender. Namun antara yang pro dan kontra tetap saling bertolak pinggang. Oleh karena itu, perlu adanya jalan tengah yang diharapkan mampu menyatukan arah keadilan dalam islam khusunya dalam konteks feminisme. Karena bersiteru memakai ayat per-ayat bukanlah hal sepele. Jalan tengah yang dimaksud merupakan metodologi tafsir feminis. Yakni teknik penafsiran yang mencoba menyuguhkan ayat tidak potong-perpotog namun keutuhan suatu ayat penting digelar dan pada gilirannya secara beramai-ramai dipahami bersama. Tentu saja metodologi kajian tafsir ini tidak luput dari aspek kontekstualisasi makna ayat guna menjemput hakekatnya yang mendalam bukan memotret budaya arab sekalipun tersurat dalam berbagai ayat al Qur’an.

Published
2016-08-01